4 faktor besar yang paling mempengaruhi Palestina dijajah hingga saat ini

Konflik antara Palestina dengan Zionis Israel tak pernah berhenti hingga saat ini, lalu mengapa hal ini bisa terjadi? berbagai upaya telah dilakukan untuk mendamaikan kedua pihak, lalu apa saja sih yang membuat konlik ini terus terjadi? Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi tiada ujungnya solusi damai di Palestina
Faktor internal Israel
Palestina sering dijadikan isu politik di antara partai-partai politik di Israel, Kebijakan terhadap Palestina sering menjadi penyebab kalah atau menangnya suatu partai di Israel. Pembangunan pemukiman Yahudi di wilayah Palestina. Perebutan wilayah Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Larangan Palestina memiliki angkatan bersenjata. Perbatasan selalu diawasi tentara Israel yang seringkali menjadi pemicu konflik dengan warga Palestina. Perbedaan pemahaman Partai yang berkuasa yaitu antara Partai Kanan Tengah Likud yang cenderung kaku dalam menjalankan perundingan damai, sedangkan Partai Kiri Tengah Buruh menerima resolusi 242 mengenai rumusan tanah untuk perdamaian (land of peace).
Faktor eksternal Israel
Dukungan tanpa batas Amerika Serikat terhadap Israel baik secara politik, ekonomi dan militer.
Faktor Internal Palestina
Terjadi perbedaan visi antara kubu Fatah dan Hamas. Lemahnya posisi tawar Palestina terhadap Israel.
Faktor eksternal Palestina
Kurangnya dukungan dari negara-negara Timur Tengah, Asia dan Eropa terhadap perundingan damai Israel-Palestina. Tidak optimalnya upaya diplomasi yang dilakukan negara-negara Arab terhadap perundingan damai. Negara-negara Timur Tengah yang secara resmi telah berdamai dengan Israel adalah Turki, Mesir, dan Yordania. Pada masa sebelum Februari 2011, Mesir banyak berperan dalam mengatasi konflik-konflik Israel dan Palestina. Selama masa Arab Spring ini, di mana Mesir merupakan salah satu Negara Timur Tengah yang mengalaminya, peran Mesir dalam proses hubungan Israel-Palestina agak berkurang. Tahun lalu, di era Ikhwanul Muslimin, Mesir memprakarsai gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Itulah satu-satunya keterlibatan Mesir dalam konflik Palestina Israel sejak jatuhnya Presiden Hosni Mubarak pada 11 Februari 2011. Biasanya Mesir, Negara Timur Tengah garda depan yang paling berpengaruh baik terhadap Israel maupun Negara Timur Tengah lain, selalu hadir dalam mendorong proses perdamaian Palestina-Israel. Hubungan Israel dengan Yordania, yang menandatangani proses perdamaian dengan Israel pada 1994, adalah Negara Timur Tengah yang paling dekat dengan Israel. Namun, perannya dalam proses perdamaian Israel Palestina tidak sebesar Mesir, juga tidak sebesar Arab Saudi dan kerajaan-kerajaan mini Arab di Teluk Persia, meskipun Yordania berbatasan langsung dengan Israel. Negara-negara inilah, bersama Mesir, yang memiliki pengaruh kuat pada AS dalam mendorong negara adidaya ini menekan Israel agar menyelesaikan konfliknya dengan Palestina. Turki merupakan negara besar di Timur Tengah, anggota NATO, yang sudah sejak awal Israel merdeka pada 1948 sudah berdamai dengan negara itu. Turki juga pernah menjajah Palestina selama ratusan tahun dan baru berakhir pada Perang Dunia I. Namun, peran negara ini dalam proses perdamaian Arab-Israel sangat kecil. Tapi belakangan ini, hubungan Israel dengan negara-negara Timur Tengah semakin dekat karena mereka menghadapi musuh bersama, yaitu Iran. Program nuklir Iran dan Arab Spring yang sedang melanda Suriah (Negara Timur Tengah garda depan yang belum berdamai dengan Israel) dan peran Hizbullah pro-Iran di Lebanon (juga tetangga Israel) membuat kebutuhan Israel akan hubungan dengan negara-Negara Timur Tengah semakin kuat.